RI Desak Jepang Realisasikan Midec
Kliping Online
http://www.seputar-indonesia.com/edisice…
RI Desak Jepang Realisasikan Midec
Monday, 15 June 2009
JAKARTA (SI) – Indonesia mendesak Pemerintah Jepang untuk segera mengimplemen tasi kan skema kerja sama pusat pengembangan industri manufaktur (Manufacturing Industry Development Center/Midec) di sektor elektronik.
Sejak disepakatinya kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang setahun lalu, Jepang belum menyentuh persoalan ini.Sebaliknya, mereka telah memanfaatkan fasilitas impor dengan bea masuk 0%. Direktur Industri Elektronik Departemen Perindustrian (Depperin) Syarif Hidayat mengatakan sektor industri elektronik nasional hanya meminta Jepang memperkuat balai-balai industri.
Hal itu supaya dapat meningkatkan standar produk sesuai taraf internasional. “Kita telah mendorong Jepang untuk segera dilaksanakan. Dan Jepangnya mengaku masih m e n c a r i k a n expert-nya (tenaga ahli) agak susah,” kata Syarif di Jakarta kemarin. Selama rombongan Depperin berada di Jepang, mereka mendatangi pusat-pusat pengujian yang ada. Dengan inisiatif ini, diketahui bahwa di Jepang telah siap para ahli yang bisa diimplementasikan untuk Midec.
“Tidak tahu kenapa mereka (Jepang) seperti mengulur waktu. Kan dia sudah punya janji harus memberikan bantuan itu, ini yang dipertanyakan,”tandas Syarif. Indonesia hanya ingin meningkatkan kemampuan balai uji dan lembaga sertifikasi produk (LSpro) melalu kerangka Midec. Dengan peningkatan ini,dalam 3–5 tahun mendatang sudah bisa masuk ke skema internasional yang dinaungi Aiso International electro Chemical Association (AIC).
“Pokoknya tahun 2009 ini kita harus sudah peroleh pelatihan.Mereka sudah janji, tapi janji terus,” ungkapnya. Staf ahli Menteri Perindustrian Achdiat Atmawinata menerangkan, sejak kesepakatan ekonomi Indonesia-Jepang pada Juli lalu, terdapat 13 sektor industri yang digarap melalui skema Midec dari 13 sektor yang diusulkan.
Krisis ekonomi yang tengah berlangsung membuat situasi ekonomi Jepang terpukul sehingga memengaruhi implementasi Midec.“Kami targetkan tiga sektor ini bisa mulai digarap dalam tahun fiskal 2008,”ungkapnya.
Dia menjelaskan, ke-13 sektor yang masuk program pengembangan kapasitas Midec antara lain pengerjaan logam, pengelasan (welding) percetakan alat mesin (mold and die), promosi ekspor dan investasi, usaha kecil, automotif, elektronik, baja, tekstil, petrokimia, oleokimia, logam nonbesi, serta makanan dan minuman.
Menurut Achdiat, program Midec memfokuskan pengembangan industri dibandingkan bantuan teknis lainnya. Achdiat menilai peningkatan sumber daya manusia yang dikerjakan melalui Midec berpotensi mengembangkan basis bisnis di 13 sektor industri yang diharapkan.
Dari perhitungan Depperin, potensi bisnis yang bisa diperoleh bisa mencapai nilai USD68 miliar pada 2012. “Dalam kerja sama IJ-EPA, kami menuntut agar Jepang turut aktif meningkatkan perekonomian Indonesia, karena itu menentukan tingkat penyerapan produk Jepang yang ada di Indonesia,” paparnya lagi. (agung kurniawan)